LEKSIKON ALAT PERTANIAN TRADISIONAL MASYARAKAT BIMA: PERSPEKTIF EKOLINGUISTIK DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS LINGKUNGAN DI SD DAN PROGRAM DESA WISATA

Authors

  • Mulyadi STKIP Taman Siswa Bima
  • Kurniawan STKIP Taman Siswa Bima

Keywords:

leksikon, ekolinguistik, pembelajaran, desa wisata

Abstract

Pada era globalisasi saat ini, permasalahan hidup begitu kompleks. Ada peran teknologi merusak keseimbangan lingkungan. Situasi itu diperbincangkan karena kelangsungan tradisi lisan pada sosio-ekologis leksikon alat pertanian tradisonal masyarakat Bima. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan: 1) bentuk dan fungsi, 2) model pembelajaran berbasis lingkungan di SD, dan 3) langkah strategis program desa wisata. Tradisi lisan ranah pertanian diasumsikan mengalami penyusutan pengetahuan karena semakin termarginalkan masyarakat pemiliknya. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan teknik pengumpulan data wawancara, perekaman, dan catat. Hasil penelitian leksikon alat pertanian tradisional yang terdata 39 jenis, dikelompokkan menjadi: 1) dikenal istilah dan referennya (benda), 2) dikenal istilah tetapi tidak lagi memiliki referenya, 3) dikenal istilah tetapi berubah referennya, dan 4) tidak dikenal lagi istilah dan referennya. Bentuk menyesuaikan kebutuhan aktivitas pertanian, memiliki fungsi khusus: 1) pra tanam, 2) proses tanam, dan 3) pasca tanam serta fungsi umum: kebutuhan petani, perawatan tanaman dan perlindungan hewan penunjang pertanian. Pembelajaran berbasis lingkungan SD dengan belajar bermakna penguatan komunikasi guru dan siswa secara aktif, melalui: (a) penyajian pengaturan awal, (b) penyajian bahan belajar, (c) memperkuat struktur kognitif, dan (d) belajar aktif. Sementara itu, langkah program desa wisata sebagai strategis edukasi menunjang kegiatan siswa SD sehingga perlu mengedukasi dan membentuk kelompok petani dan guru.

References

Bundsgaard, J.&Steffensen, S. (2000). ”The Dialectics of Ecological Morphology - or the Morphology of Dialectics”, dalam Anna Vibeka Lindo dan Jeppe Bundsgaard (eds.) Dialectal Ecolinguistics: Three Essays for the Symposium 30 Years of Language and Ecology in Graz, University of Odense.

Hutomo, S.H. (1991).Mutiara yang Terlupakan: Pengantar Studi Sastra Lisan. Surabaya: HISKI Komisariat Jawa Timur.

Halliday, M.A.K. (1990). “New Ways of Meaning: The Challenge to Applied Linguistics”, dalam Journal of Applied Linguistics 6:7-36.

. (2001). “New Ways of Meaning: The Challenge to Applied Linguistics”, dalam Fill, A. dan Muhlhausler, P. The Ecolinguistics Reader: Language, Ecology, and Environment. London: Continuum.

Husain, H.S., dkk.. (2014). “The Role of Organizational Learning Culture to Organizational Citizenship Behavior toward Knowledge Sharing Behavior”, dalam International Journal of Science and Research (IJSR), 7 (2): 64-74.

Mahsun. (2012). Metode Penelitian Bahasa. Tahapan Strategi, Metode dan Tekniknya. Jakarta: Rajawali Press.

Mulyadi. (2015). Penyusutan Leksikon Alat Pertanian Tradisional Masyarakat Bima dan Implementasinya pada Pengetahuan Siswa Kelas IX di SMPN 2 Woha: Sebuah Kajian Ekolinguistik. Tesis, Universitas Mataram, Mataram.

Mustafa, L.O. (2014). “Fungsi Pemerintah Desa dan Pembinaan Kemasyarakatan”, dalam Jurnal Etnoreflika Vol. 3 No. 1, halaman 390-399.

Pateda, M., (2012). Semantik Leksikal, Jakarta: Rineka Cipta.

Pudentia, M.P.S.S. (ed.) (1999).Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan Yayasan Asosiasi Tradisi Lisan.

Putrayasa, I.B. (2013). Landasan Pembelajaran. Singaraja-Bali: Undiksha Press.

Ratna, N.K. (2011). Antropologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

. (2010). Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suyono & Hariyanto. (2012). Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Downloads

Published

2017-06-30