Makna Filosofis Patung Baluntang bagi Masyarakat Dayak Ma’anyan di Desa Warukin Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan

Authors

  • Maria Margaretha Vicitta W. N. Sogen Universitas Lambung Mangkurat
  • Bambang Subiyakto Universitas Lambung Mangkurat
  • Sriwati Sriwati Universitas Lambung Mangkurat

DOI:

https://doi.org/10.37630/jpi.v15i4.3660

Keywords:

Dayak Ma’anyan, Patung Baluntang, Makna, Pelestarian Budaya

Abstract

Penelitian ini membahas makna filosofis Patung Baluntang bagi masyarakat Dayak Ma’anyan di Desa Warukin, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Patung ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya dan penghormatan kepada leluhur. Melalui upacara Mambuntang, patung ini menguatkan hubungan sosial dan spiritual dalam komunitas. Namun, pelestariannya menghadapi banyak tantangan, seperti modernisasi, pengaruh budaya asing, dan penurunan pelaksanaan upacara tradisional akibat pergeseran agama. Selain itu, pencurian patung juga menjadi masalah, menyebabkan jumlah dan pemahaman masyarakat tentang maknanya berkurang. Dalam penelitian ini, pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dengan mengumpulkan data melalui wawancara dengan anggota masyarakat dan observasi langsung. Hasil menunjukkan bahwa untuk memastikan Patung Baluntang tetap ada, perlu ada partisipasi aktif dari generasi muda dan dukungan dari pemerintah desa. Dengan edukasi dan kegiatan budaya, generasi muda dapat diajak untuk memahami pentingnya warisan budaya ini, sehingga Patung Baluntang tetap relevan dan dihargai di tengah perkembangan zaman.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Diman, P. (2020). Nyanyian Adat Masyarakat Dayak Maanyan: Suatu Pendekatan Hermeneutika. 1(1).

Dzulfaqor, D., & Aji, F. M. P. (2024). Ketahanan Kayu Ulin Kalimantan Sebagai Material Fasad Bangunan di Daerah dengan Kelembapan Tinggi. In Prosiding (SIAR) Seminar Ilmiah Arsitektur, 741–746. http://siar.ums.ac.id/

Effrata. (2022). Fenomologi Sosial Suku Dayak Ma’anyan. Journal Sociopolitico, 4, 13–22.

Febrian, R., Islam, M. F., & Yudistira, P. (2025). Peran Budaya dalam Pembentukan Identitas Manusia. RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora Dan Pendidikan, 3(2), 25–35. https://doi.org/10.62383/risoma.v3i2.623

Firmansyah, D., Pasim Sukabumi, S., & Al Fath Sukabumi, S. (2022). Teknik Pengambilan Sampel Umum dalam Metodologi Penelitian. Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH), 1(2), 85–114. https://doi.org/10.55927

Maryadi, S., Pelestarian, B., Budaya, N., Barat, K., & Pontianak, J. S. (2007). Upacara Membatur: Sarana Pendidikan Dalam Membentuk Karakter Pada Masyarakat Dayak Halong. Jurnal Penelitian Sejarah Dan Budaya, 3, 653–668.

Sadono, S. (2023). Budaya Nusantara. Uwais Inspirasi Indonesia.

Saenal. (2020). Upaya Melestarikan Budaya Indonesia di Era Globalisasi. Ad-Dariyah: Dialektika, Sosial, Dan Budaya, 1. http://jurnal.staiddimakassar.ac.id/index.

Setyaningrum, B., & Diah, N. (2018). Ekspresi Seni Budaya Lokal di Era Global. Ekspresi Seni, 20(2), 102–1122. https://journal.isi-padangpanjang.ac.id/index.php/Ekspresi

Soedarso, S. (2002). Seni Patung Indonesia. ISI Yogyakarta.

Soekanto, S. (2019). Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada.

Solihat, I. (2017). Makna Dan Fungsi Patung-Patung Di Bundaran Citra Raya Kabupaten Tangerang Provinsi Banten (Kajian Semiotika Charles Sanders Peirce). Jurnal Membaca Dan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 2(2), 165–174.

Sugiyanto, B. (2005). Perubahan Nilai Dan Makna Baluntang Dampaknya Terhadap Pemeliharaan Dan Pelestarian BCB (Kasus di Wilayah Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan). Berkala Arkeologi, 25(1), 8–16. https://doi.org/10.30883/jba.v25i1.905

Sugiyanto, S.S., B. (2022). Era Baru dalam Kemitraan Pengelolaan Cagar Budaya: Studi Kasus Kalimantan. Naditira Widya, 16(2), 165–176. https://doi.org/10.24832/nw.v16i2.508

Sugiyono, S. (2018). Metode Penelitian Kualitatif untuk Penelitian yang Bersifat: Eksploratif, Enterpretif, Interaktif dan Konstruktif. CV. Alfabeta.

Suherman. (2016). Patung Tau Tau di Toraja Provinsi Sulawesi Sulawesi Selatan: Kajian Simbol Susanne Knauth Langer. Imaji: Jurnal Seni Dan Pendidikan Seni, 14(2), 146–156.

Sumarwahyudi. (2009). Memahami Makna Penanda Visual Pada Patung Bambu Karya Joko Dwi Avianto. MUDRA VOLUME, 24(1), 78–91.

Sunarningsih. (2015). Keramat Batu (Patahu) di Masyarakat Ngaju, Kalimantan Tengah. Jurnal Naditira Widya: Balai Arkeologi Kalimantan Selatan., 9, 121–134.

Susanti, E., Dwi Patma, A., Sartika, D., & Radi, M. (2021). Tradisi Kerja Tahun: Nilai-nilai Pendidikan dalam Tradisi Kerja Tahun Budaya Karo Era Covid-19 di Desa Jeraya. In Edu Society: Jurnal Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (Vol. 1). https://jurnal.permapendis-sumut.org/index.php/edusociety

Susrianto, E., & Putra, I. (2020). Nilai-Nilai Budaya Melayu dalam Tradisi Pacu Sampan Leper di Kabupaten Indragiri Hilir. Pendidikan Edukasi, 8(2), 138–156.

Triwardani, R., & Rochayanti, C. (2014). Implementasi Kebijakan Desa Budaya dalam Upaya Pelestarian Budaya Lokal. Reformasi, 4(2), 102–110. www.jurnal.unitri.ac.id

Vera Nurfajriani, W., Ilhami, M. W., Mahendra, A., Sirodj, R. A., Afgani, W., Negeri, U. I., Fatah, R., & Abstract, P. (2024). Triangulasi Data Dalam Analisis Data Kualitatif. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 10(17), 826–833. https://doi.org/10.5281/zenodo.13929272

Widen, K. (2023). Orang Dayak dan Kebudayaannya. Politik Dan Pemerintahan, 12.

Downloads

Published

2025-12-20